Seminar Nasional FTSP: Relevansi Kurikulum dalam Era Revolusi Industri

itnmalangnews.id –  Ketika alumni dulu memegang peranan kekuasaan saat ini, mahasiswa sekarang tengah bersiap untuk masa yang akan datang. Untuk itu, perguruan tinggi menyesuaikan kurikulum dari waktu ke waktu. Fokus pembangunan Indonesia periode ini mengarah pada pengadaan dan penyempurnaan bangunan, misalnya bendungan. Lima tahun terakhir saja Indonesia membangun 65 bendungan.

RelevansiKurikulum dalam Era Revolusi Industri

Pemaparan materi dari Ketua LPJK Jawa Timur, Gentur Prihantoro. (Foto: Yanuar/Humas ITN Malang)


Baca juga: www.itn.ac.id

Dirjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR Syarif Burhanudin, menjelaskan perlunya membangun infrastruktur. Bukan sekadar infrastuktur, tetapi green infrastructure demi pembangunan berkelanjutan.

“Membangun infrastruktur harus memerhatikan zaman atau kita akan ketinggalan. Jangan cuma berlandaskan ekonomi, namun juga sosial. Green infrastructures yang diperlukan meliputi perencanaan, air, energi, transportasi,  bangunan, ruang terbuka, limbah, dan komunitas,” jelasnya.

Guna menyongsong kebutuhan mendatang, perguruan tinggi dituntut memiliki kurikulum yang bisa diterjemahkan dalam bentuk pasar. Ia menambahkan bahwa ke depan standar akan terus berubah. “Misalnya dulu hitung manual sekarang bisa pakai aplikasi. Gambar juga sama. Lulusan zaman dulu tidak diajari Autocad tapi sekarang perusahaan minta kompetensi itu,” papar Syarif.

Sedangkan Ketua LPJK Jawa Timur, Gentur Prihantono, menceritakan jika era Revolusi Industri 4.0 sudah menyangkut sistem. Manusia juga harus terus meningkatkan kompetensi agar bisa bersaing. “Di era Revolusi Industri 4.0, ada gap profesional dan tenaga kerja. Sertifikat kompetensi dibutuhkan agar calon tenaga kerja bisa menjadi profesional. Kami di LPJK membuka seluas luasnya program sertifikasi,” tegas Gentur.

Sumber Daya Manusia (SDM) akan terus ditantang zaman. Di Indonesia sendiri, SDM relatif kurang dari kebutuhan. Dari 8,3 juta tenaga konstruksi, hanya sekitar 10% yang punya sertifikat. Tenaga ahli yg teregistrasi pun hanya sekitar 150 ribu padahal dulu lebih dari 180 ribu.

Baca juga: Dorong Infrastruktur Berkelanjutan, ITN Malang Gelar Seminar Nasional

Baca juga: Beginilah Cara Belajar Mengoperasikan Pabrik Ala Seminar Nasional Teknik Kimia

Mereka berdua menyampaikan hal tersebut pada Seminar Nasional (Semsina) Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Kamis (31/10). Seminar tahunan ini merupakan salah satu tanda kepedulian kampus pada kondisi bangsa, khususnya lewat bidang pendidikan.

“ITN Malang sangat peduli kepada perubahan dan paradigma serta melibatkan dirinya dalam Tridharma Perguruan Tinggi. Peserta Semsina antusias, mereka berasal dari kalangan mahasiswa, dosen, birokrat, dan badan profesional. Makalah pun merata hampir di semua sub topik,” kata Dr. Ir. Subandiyah Azis, CES, Ketua Panitia Semsina. (ata)

(Visited 145 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *