Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., menghadiri Konferensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2025 di Bandung. (Foto: Istimewa)
itnmalangnews.id – Rektor Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang), Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., menghadiri Konferensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2025 di Sasana Budaya Ganesha ITB, Bandung, Kamis (07/08/2025). Konferensi diikuti 2.000 peserta, terdiri dari para peneliti, pimpinan perguruan tinggi, serta perwakilan dari berbagai kementerian, lembaga, dan sektor industri.
KSTI 2025 dibuka oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, yang dalam pidatonya menekankan pentingnya pengembangan industri nasional berbasis sains, riset, dan inovasi teknologi. Acara ini selaras dengan temanya, “Sains dan Teknologi untuk Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi,” yang menjadi fondasi penting untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
Rektor Awan Uji Krismanto mengungkapkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah. Lebih lanjut, ia menyoroti kesesuaian ITN Malang dalam mendukung Asta Cita keempat dan kelima Presiden dan Wakil Presiden yang berfokus pada penguatan sumber daya manusia (SDM), sains, teknologi, serta hilirisasi dan industrialisasi untuk meningkatkan nilai tambah dalam negeri.
“Intinya kami ingin berkolaborasi untuk bisa memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi serta industri di tanah air, untuk mendukung program Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden,” ujar rektor saat ditemui di ruangannya Selasa (12/08/2025).
ITN Malang sebagai Mitra Strategis Pemerintah
Rektor menjelaskan, ITN Malang sudah memiliki reputasi yang baik dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, seperti di bidang manufaktur, perencanaan wilayah, dan teknologi pangan. Hal ini menjadikan ITN Malang sebagai mitra yang relevan untuk mendukung program pemerintah.
Baca juga: ITN Malang Digandeng Kementerian ATR/BPN Sukseskan Program PTSL
“Di ITN Malang sangat relevan, karena merupakan Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang memiliki reputasi yang baik di bidang pengembangan ilmu pengetahuan terutama teknologi,” jelasnya.
ITN Malang menjadi salah satu dari 20 PTS yang diundang dari LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, dari total sekitar 400 perguruan tinggi yang ada. Ini menunjukkan pengakuan terhadap kualitas dan kontribusi ITN Malang.
Harapan Kolaborasi yang Lebih Luas
Meskipun menganggap KSTI 2025 sebagai langkah awal yang baik, rektor berharap pemerintah tidak hanya berorientasi pada Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dalam kolaborasi pengembangan teknologi.
“PTS juga punya reputasi yang baik, seperti ITN Malang yang memiliki portofolio yang baik di bidang pemanfaatan energi baru terbarukan, juga bisa diajak berkolaborasi,” serunya.
Ia menambahkan, ITN Malang memiliki sumber daya manusia, kesiapan laboratorium, dan track record implementasi di lapangan yang mumpuni. “Ini adalah langkah awal yang positif, namun kolaborasi jangka panjang antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri sangat dibutuhkan untuk mewujudkan tujuan tersebut,” tandasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

