PUISI-PUISI BELADIENA HERDIANI

ANAK BENCANA

        

Di antara serakan daun-daun sampah.

Anak-anak bencana menangis di layar kaca.

Terjebak dalam lebam luka.

Bersimbah darah duka nestapa.

Gemetar dalam antrian panjang bencana.

 

Orang tuanya dijemput gelombang.

Tersembunyi timbunan reruntuhan gempa.

Larut hilang dalam banjir bandang.

Menjadi arang abu dalam kobaran api.

 

Anak-anak bencana dalam rekaman kusam.

Hilang saat televisi dimatikan.

Tinggal tangan-tangan yang menggapai.

Yang teringat bagai hantu dalam mimpi.

 

Yogyakarta 2014

 

 

 

PENYAIR MUDA

 

Membelah ramai kota,

Di antara kesibukan manusia menata usaha

Penyair muda menyusuri kaki lima

Membuka lembaran buku tua,

Di toko buku sederhana.

Membeli sesuatu yang murah saja

Ia tak mengharap serba ada

Sebab hidup adalah karya.

 

Yogyakarta 2014

 

 

 

MIMPI PEMANCING

 

Angin sendiri menepi di tepi sepi.

Ombak dibawa gelombang ke pasir pesisir.

Redup bulan di langit sunyi.

Berkawan kelip bintang tanpa ceria.

 

Aku hanya jasad yang berharap pada laut.

Tentang sedikit nasi dan pengisi perut.

Pada jaring dan pancing.

Yang memberi mimpi dan iming-iming.

Agar hidup tak serasa habis manis sepah dibuang.

 

Yogyakarta 2014

 

  • Penulis adalah mahasiswa Ilmu Perustakaan, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
(Visited 220 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *