Ketua IMTTL ITN Malang, Mario Decio Simao dos Santos (empat dari kanan) bersama pengurus dan panitia. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)
itnmalangnews.id – Ruang Hidrolika Kampus 1, Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) mendadak ramai dan penuh kehangatan pada Sabtu (16/05/2026). Puluhan mahasiswa asal Timor Leste berkumpul untuk merayakan Hari Kemerdekaan negara mereka yang ke-24, yang sebenarnya jatuh pada tanggal 20 Mei mendatang. Acara yang diinisiasi oleh Ikatan Mahasiswa Teknik Timor Leste (IMTTL) ITN Malang ini tidak hanya dihadiri oleh mahasiswa internal kampus, tapi juga menjadi ajang temu kangen bagi mahasiswa Timor Leste yang kuliah di Unisma, Unmer, Unitri, bahkan ada yang jauh-jauh datang dari Surabaya.
Baca juga: Mahasiswa ITN Malang Ikuti Youth Forum “Malang Creative Economy Goes Global” Voice of Indonesia
Bagi warga Timor Leste, hari kemerdekaan memang punya makna mendalam karena mereka merayakan dua momen bersejarah besar. Yakni: Hari Restorasi Kemerdekaan setiap 20 Mei, dan Hari Proklamasi Kemerdekaan pada 28 November. Nah, momen kali ini dimanfaatkan betul oleh para mahasiswa di perantauan untuk mempererat persaudaraan sekaligus menyalakan kembali semangat belajar mereka.
Ketua IMTTL ITN Malang, Mario Decio Simao dos Santos, menceritakan, acara kali ini sengaja dikemas santai namun tetap bermakna. Selain agenda seremonial seperti menyanyikan lagu kebangsaan dan sharing soal makna kemerdekaan, mereka juga menggelar turnamen esport PUBG Mobile yang diikuti oleh 14 tim.
Ikatan Mahasiswa Teknik Timor Leste (IMTTL) ITN Malang merayakan Hari Restorasi Kemerdekaan ke 24 Tahun Timor Leste. (Foto: Mita/Humas ITN Malang)
“Awalnya sempat kepikiran mau mengadakan lomba futsal, tapi butuh tempat yang luas. Kalau esport kan tidak makan tempat, lagian juga banyak pecintanya. Sambil main game, kami bisa duduk bareng, ngobrol, dan saling kenal satu sama lain,” ujar mahasiswa Teknik Mesin S-1 angkatan 2023 ini.
Mario menambahkan, perayaan ini menjadi pengingat atau booster bagi mereka agar tidak lupa pada perjuangan para pahlawan. Sebagai mahasiswa teknik yang merantau di negeri orang, mereka sadar mempunyai tanggung jawab besar untuk membawa pulang ilmu demi membangun Timor Leste di masa depan.
“Pesan saya untuk teman-teman di perantauan, ingat orang tua di kampung halaman. Di tanah orang kita membawa nama negara, jadi jangan sampai melanggar aturan. Utamakan belajar dan belajar,” tegas Mario, yang mencatat ada 13 mahasiswa baru asal Timor Leste yang bergabung di ITN Malang tahun ini.
Dukungan penuh juga datang dari pihak kampus. Kepala Kantor Urusan Internasional (KUI) ITN Malang, Krisna Febrian Anugerahputra, ST., MT., M.Sc., yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan rasa bangganya. Ia menekankan bahwa kehadiran mahasiswa internasional, khususnya 37 mahasiswa asal Timor Leste memberikan warna tersendiri bagi kehidupan akademik dan sosial di Kampus Biru ITN Malang.
“Kami tahu ada tantangan tersendiri saat beradaptasi di lingkungan baru, mulai dari budaya, bahasa, hingga rasa rindu karena jauh dari keluarga. Namun, kami melihat semangat dan ketekunan yang luar biasa dari mahasiswa Timor Leste,” ungkap Krisna. Ia juga memastikan bahwa KUI ITN Malang berkomitmen penuh untuk mendampingi dan memfasilitasi kebutuhan para mahasiswa internasional agar mereka bisa belajar dengan nyaman dan merasa menjadi bagian dari keluarga besar ITN.
Cerita adaptasi yang unik datang dari Lamavi Vicente Tam De Sousa, mahasiswa baru Teknik Mesin angkatan 2025. Alumnus SMK Dom Bosco Fatumaca ini mengaku sempat mengalami culture shock, terutama soal bahasa sehari-hari di kampus.
Turnamen PUBG Ikatan Mahasiswa Teknik Timor Leste (IMTTL) ITN Malang diikuti 14 tim. (Foto: Istimewa)
“Di semester ini agak kesulitan dengan bahasa. Kalau pakai bahasa Indonesia saya paham, tapi teman-teman di sini kesehariannya sering pakai bahasa Jawa. Kadang kalau ada dosen yang menjelaskan materi kuliah dicampur bahasa Jawa, saya langsung merasa agak ruwet menangkapnya,” cerita Lamavi.
Lamavi sendiri memilih kuliah di ITN Malang setelah mengikuti ekspo kampus yang diikuti langsung oleh Kepala KUI ITN Malang di sekolahnya dulu. Hubungan emosional antara SMK Dom Bosco Fatumaca dan ITN Malang ternyata memang sudah lama terjalin erat, bahkan salah satu guru Arsitektur di sekolahnya, Pak Ricardo, merupakan alumni ITN Malang. Bahkan ada lima alumni SMK Dom Bosca yang tahun ajaran ini kuliah di ITN. Karena jurusan Lamavi di sekolah adalah mesin produksi, ia memantapkan diri mengambil jurusan Teknik Mesin.
Bagi Lamavi, acara berkumpul seperti ini sangat membantu mahasiswa baru seperti dirinya untuk mengobati rasa rindu rumah dan memperluas relasi. Ia berharap, semua hal baik yang dipelajari selama berkuliah di Indonesia bisa dibawa pulang ke tanah air. “Semoga teman-teman bisa menyerap ilmu dan hal-hal positif di sini, supaya nanti saat pulang, kita bisa bikin Timor Leste semakin maju dan lebih bagus lagi,” pungkasnya. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

