Pengalaman Ayu Ambarwati Di Sabuk Kuning Bela Diri Jujitsu ITN Malang

itnmalangnews.id – Menjadi peserta perempuan bela diri memang tidak mudah di manapun. Walaupun sebetulnya sudah sangat biasa seorang perempuan belajar bela diri. Malah tak sedikit kaum hawa yang mempelajarinya untuk melindungi diri dari gangguan-gangguan tetentu yang mungkin terjadi saat berada di jalanan atau di tempat sepi. Itulah yang menjadi alasan kuat Ayu Ambarwati mengikuti bela diri Jujitsu di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Pengalaman Ayu Ambarwati Di Bela Diri Jujitsu ITN MalangDitemui di kampus I, dara kelahiran wagir ini menceritakan pengalamannya menjadi anggota Jujitsu ITN Malang yang kini sudah berada di level sabuk kuning. Ayu mulai mengenal bela diri saat duduk di semester lima, di mana dia mengikuti salah satu bela diri yang ada di Kota Malang. Namun sayang tidak bisa berlatih dengan intens karena ada beberapa persoalan. “Sejak saat itu sebetulnya saya sudah sangat suka bela diri, cuma ada kendala sehingga tak bisa fokus,” kenangnya.

Pada awal tahun 2017 ternyata ITN Malang kembali menghidupkan Jujitsu yang bernaung dibawah IJI (Ikatan Jujitsu Indonesia) yang dikomandani langsung oleh rektor, Dr. Ir Lalu Mulyadi, MT. Alhasil mahasiswi semeter tujuh ini kembali masuk untuk meneruskan minatnya. “Ternyata setelah masuk, saya merasa sangat nyaman, pelatihnya enak sekali tidak pernah marah. Saya bisa belajar lebih fokus,” tuturnya.

Kini Ayu dapat belajar dengan rutin setiap minggunya. Setidaknya ada tiga hari, yaitu, Rabu, Sabtu, dan Minggu yang dijadwalkan untuk berlatih. Namun pelatih, Andi Sastro, memberi kebebasan kepada para mahasiswa untuk memilih hari yang mungkin untuk ikut. “Kami kan berasal dari jurusan yang berbeda-beda, kesibukannya juga beda sehingga waktu senggangnya juga berbeda, dengan tiga hari jadwal ini kita enak bisa milih. Cuma biasanya kalau hari minggu kita mereview,” kata dia.

Sementara, Mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan itu sendiri lebih sering berlatih pada hari Sabtu. Apalagi saat latihan juga bisa divideo sehingga saat pulang ke rumah bisa diulang lagi gerakan yang lupa. Adapun gerakan latihan di antaranya tendangan, pukulan, kuncian, dan bantingan. Sebelum berlatih biasanya peserta diminta sit up untuk untuk menguatkan otot perut dan melenturkan otot kaki. “Kalau kaki lentur nanti tendangannya bisa lebih tinggi,” kata dia.

Sejauh ini, Jujitsu kampus biru memiliki anggota kurang lebih tiga puluh orang, dan lima orang di antaranya adalah perempuan termasuk salah satunya Ayu Ambarwati. Di antara semua peserta ini berasal dari berbagai elemen, ada yang dari dosen, mahasiswa dan security ITN Malang. Namun demikian semuanya kompak. “Meski kami berasal dari background yang berbeda-beda kita merasa sama, kita memiliki kekeluargaan yang kuat,” tuturnya.

Setelah berlatih selama beberapa bulan, kini Ayu sudah berada di level sabuk kuning. Yaitu level kedua setelah sabuk putih level pertama. Untuk mendapat sabuk kuning tidak mudah karena harus mengikuti Ujian Kenaikan Tingkat (UKT). “Saat itu ujiannya di Batu, dan ternyata saya lolos, berarti sudah sabuk kuning,” kata dia.

Adapun beberapa jenis ujian yang diberikan berkaitan dengan pukulan, tedangan, kuncian, dan bantingan. Empat hal ini sudah menjadi menu di setiap latihan mingguan, sehingga tidak terlalu kesulitan pada saat ujian. Ayu berharap dengan bela diri ini, dia dapat melindungi diri saat ada gangguan dari orang-orang jahil. “Saya kira sangat perlu perempuan belajar bela diri, apalagi saat ini, kita semua tahulah bagaimana di jalanan itu,” pungkasnya. (her)

(Visited 638 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *