Ikon Keragaman dan Toleransi di Kampus Biru ITN Malang

itnmalangnews.id – Hari ini penampilan sivitas akademika Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang tampak beragam, Selasa (10/09). Pada hari kedua Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PKKMB) semua mengenakan pakaian atau atribut khas daerah asal atau pakaian nasional.

Ikon Keragaman dan Toleransi di Kampus Biru

Rektor ITN Malang (berpakaian adat Jawa) beserta sivitas akademika melakukan Flash mob bersama di PKKMB 2019. (Foto: Ata/itnnews)


Tidak hanya mahasiswa baru yang berpenampilan seperti itu, tetapi juga panitia PKKMB, dosen, sampai pejabat struktural ITN Malang. Pada momen tersebut, Dr.Ir. Kustamar, MT, Rektor ITN Malang menegaskan pluralitas merupakan ciri Kampus Biru. ITN Malang adalah kampus nasionalis yang merangkul semua perbedaan.

“ITN Malang adalah medium pendidikan yang siap menampung mahasiswa dari berbagai daerah. ITN Malang bukan milik satu kelompok saja. Salah satu ikon kampus ini adalah kebersamaan dalam keberagamannya,” tukas Kustamar yang mengenakan pakaian adat Jawa.

Ikon kampus toleransi bukan sekadar julukan. Komitmen lembaga terbukti dengan membangun masjid, kapel, dan pura di Kampus 2 ITN Malang. Dua tempat ibadah lain pun sudah direncanakan untuk tahun-tahun yang akan datang. “Kita membiasakan untuk hidup toleransi dalam satu kawasan. Ke depannya mudah-mudahan ITN Malang sebagai contoh model pembelajaran kebersamaan,” imbuh Kustamar.

Bukti lain tersaji ketika PKKMB. Di akhir PKKMB, 1.118 mahasiswa baru yang mengenakan pakaian adat melakukan flash mob. Gerakan mereka diiringi dengan lagu latar dari daerah timur yaitu Apuse (Papua), Yamko Rambe Yamko (Papua), Poco Poco (Maluku), dan Gemu Fa Mi Re (Nusa Tenggara Timur). Warga ITN Malang yang lain turut bersuka cita dalam flash mob, termasuk Rektor ITN Malang.

Ketika ditemui usai flash mob, seorang mahasiswa baru ITN Malang menilai positif kebijakan pakaian hingga teknis acara. Pengetahuan mahasiswa baru tentang suku dan daerah di Indonesia semakin luas karena saling bertanya antar teman. “Konsepnya bagus, kami jadi bisa saling menunjukkan pakaian atau atribut khas kampung halaman. Saya juga bisa mengenalkan adat Sulawesi setiap ada teman bertanya tentang pakaian yang saya pakai,” komentar Puspita Sari, mahasiswi baru asal Sulawesi Tengah. (ata)

Link : www.itn.ac.id

(Visited 204 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *