Dr. Ir. Kustamar, MT Wakil Rektor I ITN Malang

Biayai Kuliah Dengan Menjual Semua Ayam Ternak Yang Dimiliki, Kini Jadi Ahli Pengairan Sekaligus Wakil Rektor I

itnmalangnews.id – Ditemui di ruang kerjanya Dr. Ir. Kustamar, MT tampak sedang berdiskusi dengan salah seorang mahasiswanya. Tetapi kemudian menjeda diskusinya dan menyapa wartawan itnmalangnews.id dengan ramah serta menyilakan duduk di salah satu kursi ruangannya. Dalam kesempatan inilah bapak tiga anak tersebut bercerita banyak tentang perjuangan hidupnya dari sebagai anak petani hingga Wakil Rektor I Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang.

Menurut Kustamar perjuangan itu dimulai dari Blitar, tanah kelahirannya. Sejak kecil memiliki minat belajar atau sekolah yang tinggi di dalam dirinya, bahkan dia sempat protes dan ngotot pada orang tuanya untuk segera disekolahkan meski usianya baru lima tahun. Akhirnya, dia masuk masuk Sekolah Dasar dengan usia sebelia itu. “Saya tidak tahu, waktu itu saya kok senang sekali belajar,” kata pria kelahiran 1 Februari 1964 itu.

Dr. Ir. Kustamar, MT Wakil Rektor II ITN MalangSetelah menamatkan sekolah dasar pada 1975, dia langsung melanjutkan ke STN (Sekolah Teknik Negeri) selevel SMP saat ini dengan mengambil jurusan bangunan air. Pilihan ini, menurut Kustamar, karena dirinya ingin bekerja langsung setelah sekolah. Mengingat ekonomi orang tua yang kurang memungkinkan untuk lanjut sekolah. Sementara jurusan bangunan air diambil dari kesukaanya memelihara saluran irigasi sawah setiap harinya. “Jadi, saya ingin bekerja di bidang kontraktor saluran air, karena saat itu jarang yang jadi seperti itu,” kenangnya.

Pada tahun 1978 tamat STN, tetapi rupanya postur tubuh penulis tiga buku ini masih kecil, belum cocok untuk bekerja. Akhirnya, memilih melanjutkan studi ke STM (Sekolah Teknik Menengah) Blitar dengan jurusan yang sama yaitu bangunan air. Di sinilah suami ibu Ir. Ari Mukti, MT itu menunjukkan keseriusan dan  kemampuannya dalam belajar. Dia menjadi rujukan teman-temannya saat ada tugas atau pekerjaan rumah dari sekolah. Jadi, jika ada tugas para siswa mengkonfirmasi ke Kustamar kebenarannya sebelum diserahkan kepada guru. Dan dia sendiri merasa nyaman dengan itu karena artinya belajar bersama.

Selaman menempuh jenjang STM ini, dia juga menyempatkan diri berternak ayam petelor di rumahnya. Tak nanggung-nanggung sebanyak seribu ekor. Jadi setiap pagi sebelum berangkat sekolah dan sepulang sekolah sekitar jam 02.00 dia memberi makan ayam-ayam tersebut. Dan hasilnya lumayan, dalam sehari bisa panen sebanyak 750 butir telur. Hasil ini dijual, uangnya ditabung untuk siap studi selanjutnya.

Setelah tamat STM pada tahun 1982, pria memiliki hobi berkebun tersebut dan didukung oleh keluarga memutuskan untuk melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Alhasil, semua ayam-ayamnya dijual untuk dijadikan biaya kuliah di Kota Malang. “Saya kan otomatis tidak di rumah, jadi tidak ada yang ngasih makan ayam juga, ya di jual saja,” katanya.

Setibanya di Kota Malang, pilihan studi jatuh pada Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang jurusan teknik pengairan. Selama kuliah, pria yang juga alumni Universitas Brawijaya (UB) itu, tidak memiliki cukup dana. Dia mensiasati keadaan ini, dengan mengoleksi semua soal-soal ujian di tahun-tahun sebelumnya, lalu dikerjakan. Hasil pekerjaannya ini kemudian dijadikan bahan untuk belajar bareng dengan teman-temannya. Saat itu dibagi berkelompok yang tediri tujuh orang. Dan setelah belajar Kustamar sering ditraktir makan oleh teman-temannya sebagai rasa terimakasih telah diajari. “Biasanya ditraktir makan nasi goreng Dinoyo tiap malam,” kenangnya tersenyum. Keadaan ini dapat membantu secara finansial baginya hingga selama tiga tahun.

Ceperan lain biasanya dia dapat, jika ada temannya yang mau ujian. Nah, disitu dia hadir sebagai layaknya pembimbing ngajari sang teman yang ingin lulus tersebut. Selain itu, Kustamar juag bercerita bahwa selama mengajari temannya ada kesulitan yang dialami oleh mantan ketua bidang pendidikan HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) teknik pengairan tersebut, yaiu saat ngajari teman-teman cewek. Dia merasa tidak biasa dengan perempuan waktu itu. “Biasanya ada adek kelas cewek minta diajari, nah disitu saya gugup dan kaku. Mungkin karena cewek itu cenderung cengeng,” kilahnya.

Pada tahun 1986, Kustamar berhasil mengenakan toga sebagai sarjana teknik pengairan. Dia kemudian menjadi karyawan bagian recording di BAAK sekaligus nyambi asisten dosen. Pada tahun 1991 resmi menjadi dosen ITN setelah dinyatakan lolos di ujian Kopertis, sempat menjadi sekretaris jurusan. Setahun kemudian melanjutkan studi ke Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan jurusan teknikl sipil/teknik sungai.

Selama studi di kampus matahari terbit ini, Kustamar mendapat dua kesan penting yang dicamkan hingga saat ini. Pertama, semua desain yang dihasilkan dari penelitian harus dibuat sesederhana mungkin sehingga mudah diaplikasikan oleh pengguna. Kedua, terkesan dengan ajaran dosennya Prof. Sujarwadi bahwa kecerdasan kolektif dibutuhkan untuk mengatasi kecerdasan indvidu yang mementingkan egonya masing-masing. Dari dua prinsip inilah dia bertekat membangun ITN Malang lebih dahsyat lagi.

Setelah lulus dari UGM pada 1995, dia kembali mengajar di ITN. Di sini karirnya terus meroket. Dia menjabat ketua jurusan, kemudian Wakil Dekan (WD) I Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP), kemudian secara berurutan WD II, dan WD III. Lalu melanjutkan studi doktoralnya di UB Malang dengan jurusan sumberdaya air dan lulus pada 2007. Setelah itu menjabat dekan FTSP hingga 2014, dan diangkat sebagai Wakil Rektor I hingga sekarang.

Kunci sukses dari semua itu, menurut pria yang kini tinggal di Jl. Simpang Sulfat utara tersebut, adalah belajar tekun karena pada dasarnya tidak ada orang bodoh, yang ada ialah orang tidak belajar. Selain itu harus membina kecerdasan kolektif untuk membangun apapun secara bersama-sama. (her)

(Visited 838 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *