Dr.Ir. Julianus Hutabarat. MSIE, Wakil Rektor II ITN Malang

Sekolah Juara Kelas, Kuliah Jadi Penjual Koran, Kini Wakil Rektor

 

itnmalangnews.id – Nasib manusia tidak ada yang tahu, Tuhanlah yang menentukan, demikian pepatah mengatakan. Tetapi Tuhan menentukan nasib manusia berdasarkan semangat dan usaha kerasnya. Karena itu kesuksesan seseorang adalah pertemuan antara kerja keras dan ketentuan Tuhan. Itulah yang dialami Dr.Ir. Julianus Hutabarat. MSIE, Wakil Rektor II ITN Malang.

dr-ir-julianus-hutabarat-msie-wakil-rektor-ii-itn-malang

Ditemui diruang kerjanya kemarin (26/1/16), pria yang akrab disapa Julianus itu menceritakan perjuangan hidupnya yang penuh suka-duka hingga duduk menjadi Wakil Rektor II ITN Malang. Pria yang tinggal di Karanglo Singosari tersebut lahir dari keluarga tentara16 Juli 1961 lalu di Surabaya. “Bapak saya tentara Angakatn Laut (AL), dia sangat disiplin. Sejak kecil saya dididik hidup disiplin,” kenang alumni SDN Kedungsari Surabaya tersebut. Salah satu bentuk pendidikan disiplin yang diberikan sang ayah adalah setiap pagi nyemir sepatu ayah dan malam harinya nyetrika baju. Peraturan disiplin ini juga membuat Julianus harus laporan dulu pada ayah setiap kali melakukan sesuatu. “Kalau tidak lapor, ya dimarahi,”  katanya.

Selain hidup disiplin, Julianus kecil diajarkan oleh sang ayah pentingnya pendidikan. Bahwa satu-satunya kekayaan dalam hidup ini adalah ilmu dan semangat bekerja keras. Setidaknya ada dua pesan sang ayah yang dicamkan oleh pria memiliki hobi renang, volly, dan badminton itu hingga kini. Pertama, bahwa hidup di Surabaya tidak punya sawah, satu-satunya sawah adalah belajar mencari ilmu. Kedua, kalau ingin mutiara maka harus menyelam di laut dalam. “Keluarga saya pendatang di Surabaya makanya tak punya sawah, karena itu saya harus sungguh-sungguh belajar, dan bekerja keras,” terang pria Wakil Rektor II ITN Malang penyuka bisnis tersebut.

Berkat dorongan sang ayah, Julianus menjadi salah satu siswa yang hebat di bidang eksakta selama di sekolah. Saat menempuh jenjang sekolah menengah pertama di SMPN 4 Surabaya, Julianus menguasai mata pelajaran Aljabar. Sering mendapat nilai sembilan untuk pelajaran yang satu ini. Pada jenjang sekolah menengah atas di SMAN 6 Surabaya semangat belajarnya semakin menanjak. Dia mengambil jurusan IPA dan menyukai pelajaran kimia. “Saya senang cara mengajar guru kimia, dan tertarik pada pencampuran larutan-larutan kimia,” imbuhnya. Itulah yang membuat semangat belajarnya di bidang eksakta semakin kuat. Alhasil dia berhasil meraih juara kelas saat duduk di kelas II dan III.

Tahun 1980, Julianus menyelesaikan jenjang SMA. Sejak itulah kehidupan baru dimulai oleh pria ramah pejabat Wakil Rektor II ITN Malang itu. Dia melanjutkan studi ke ITN Malang jurusan Teknik Industri. Di kota dingin itu dia hidup mandiri terpisah dari orang tua. Memang sang ayah tidak memaksanya masuk tentara, pilihan jurusan studi bebas bagi Julianus. Mengapa kuliah di ITN Malang? Julianus mengatakan bahwa saat itu hanya ITN Malang di Jawa Timur yang membuka jurusan Teknik Industri. “ITS dan UB waktu itu belum memiliki jurusan Teknik Industri, padahal jurusan ini sedang mencuat kala itu,” kilahnya.

Proses kuliah dilalui dengan normal, menginjak semester akhir Julianus tidak bisa langsung mengikuti ujian akhir negara. Karena kuota peserta ujian belum mencapai 20 orang sebagaimana disyaratkan. Akhirnya dia miliki waktu luang. Selama waktu luang itu Julianus tetap membutuhkan dana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sementara itu dia mulai merasa sungkan untuk terus-terusan mengandalkan kiriman orang tua. Apalagi sang ayah harus menghidupi dan membiayai studi tiga adiknya yang lain. Akhirnya dia banting setir mencari kerjaan yang langsung mendapatkan uang. “Ternyata pekerjaan yang langsung menghasilkan uang itu adalah jual koran,” tuturnya. Kehidupan Wakil Rektor II ITN Malang kala itu begitu dramatis.

Dia kemudian menemui Agen Media Terbit, salah satu agen koran di Malang, untuk mengajukan diri sebagai salah satu penjualnya. Ternyata diterima dan diberikan wilayah jelajah di Pasar Batu. Tanpa pikir panjang langsung diambil kesempatan ini. “Pagi-pagi saya gunakan sepatu kets dan tas selempang, sarapan pecel, lalu berangkat ke Batu dengan bus Puspa Indah melalui terminal Pattimura,” ujar pria yang juga memiliki hobi lari tersebut.

Selama di bus, dia juga berperan sebagai kernet. Sebagaimana kernet, di jalan berteriak-teriak memanggil penumpang ‘Dilempar Batu’ yaitu Kediri-Pare-Batu yang merupakan trayek bus. Jika ada penumpang, dia ikut membantu menaikkan barang ke bus. Dengan cara demikian Julianus tidak dipungut tiket bus oleh sopir.

Di Batu, alumni magister Teknik Industi Institut Teknologi Bandung tersebut menjual korannya ke truk-truk di jalan, orang belanja di pasar, hingga ke kawasan wisata Selecta. Malah jenis jualannya tidak hanya koran, tetapi juga teka-teki silang (TTS). “Per hari bisa habis 100 eksemplar koran dijual,” ucapnya. Profesi sebagai penjual koran dilalui selama setahun setengah mulai tahun 1984 hingga pertengahan 1985. Sungguh orang tidak akan menyangka saat itu bahwa penjual Koran itu sekarang adalah Wakil Rektor II ITN Malang.

Tahun 1985, Julianus lulus dari ITN, dan diterima sebagai staf rekording di almamaternya. Selama bekerja sebagai staf, Julianus belum punya kontrakan dan memilih tidur di salah satu ruangan bawah kampus dekat parkiran yang kini menjadi base camp UKM Format. Tahun 1986 naik jabatan menjadi asisten dosen. Kemudian 1987 menjadi dosen. Dua tahun kemudian melanjutkan studi ke ITB Bandung dengan jurusan yang sama. “Setelah itu saya menjadi satu-satunya magister Teknik Indutri dari Bandung di ITN ini,” lanjutnya.

Tak berhenti di situ karirnya semakin melonjak, tahun 1992 menjadi ketua jurusan Teknik Industri S1 hingga 1998. Setelah itu ketua prodi S2 Teknik Industri antara 2005-2008. “Kemudian balik lagi sebagai  ketua jurusan S1 antara tahun 2008-2010,” ujarnya. Tahun 2010 berkesempatan melanjutkan studi doktoral di Universitas Brawijaya (UB) Malang hingga 2014 dengan jurusan yang sama. Setelah itu diangkat menjadi Wakil Rektor II ITN Malang bidang keuangan. “Alhamdulillah sebelumnya saya tak punya cita-cita seperti ini, tetapi usaha keras dan semangat mengantarkan saya kesini,” tutupnya. (her)

(Visited 854 times, 2 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *