Cerpen : Jangkar Emas Ibu

Jangkar Emas Ibu

Oleh: Rizza Nasir

Kau pikir enak  jadi mahasiswa akhir? Entah semester delapan, sepuluh, dua belas, empat belas, berapapun, kau pikir enak? Kau tahu, dari semua hari-hari dan semesterku di kampus ini, semester akhir inilah yang paling kubenci. Ya. Kau pasti tahu alasannya. Skripsi!

Aku juga bingung, kenapa semua mahasiswa harus membuat skripsi jika ingin lulus jadi sarjana secara terhormat. Ya terhormat! Karena ada cara lain yang bisa kau tempuh untuk keluar dari kampus ini.  Mau kuberi tahu caranya? Tak usah bayar uang  semestermu, lalu pulanglah ke kampung halamanmu. Beres! Tak ada lagi tugas-tugas kuliah yang memuakkan, pun dosen-dosen yang seperti dewa. Harus dihormati dan dipatuhi segala perintahnya. Jika tidak sesuai  dengan hatinya maka ia dengan seenaknya tak mau mengajar. Huh!

Sudahlah, aku tidak mau mengingat dosen-dosen semester-semester lalu yang memuakkan, karena tentu saja masih banyak dosen yang menyenangkan, humoris dan memperlakukan mahasiswanya layaknya teman. Aku suka dosen jenis ini. Kau juga kan? Yah, setidaknya dengan humornya aku tak pernah ngantuk lagi saat jam-jam kuliah.

Jika bukan karena ibuku, aku tak mungkin sampai pada semester akhir ini dan harus berurusan dengan skripsi. Jika aku tahu menjadi mahasiswa semester akhir itu begini rasanya aku sudah tak membayarkan uang kuliah dan pulang dari semester sebelum-sebelumnya. Tapi lagi-lagi aku teringat ibuku.

Ibuku sangat ingin aku menjadi sarjana, beliau bangga denganku yang bisa kuliah di kota, tentu saja karena hanya lulusan SMA, jadi aku adalah kebanggaannya. Bukankah semua ibu mengharapkan anaknya lebih baik darinya dalam hal apapun? Nah begitu pula ibuku!

Ibu menginginkan aku menjadi guru, katanya menjadi guru itu investasi tanpa henti, bahkan sampai nanti aku mati. Ibu lalu membacakan hadist Nabi yang isinya, mengatakan bahwa hanya ada tiga hal yang tak terputus pahalanya bahkan setelah manusia itu meninggal.  Sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak sholeh yang mendoakannya. Tampaknya guru masuk dalam kriteria kedua.  Dan ibuku menginkan aku punya banyak tabungan pahala untuk dibawa menjemput kematian.

Sebenarnya aku suka melukis. Aku suka mencampur adukkan warna, lalu kugores di kanvas atau kertas gambar yang tebal. Aku ingin jadi penerus Affandi, Popo Iskandar atau Basuki Abdullah. Diam-diam aku sering mengumpulkan lukisan-lukisan mereka yang tersebar di internet, aku mengamati bagaimana cara mereka memadukan warna, detil dan teknik poles yang mereka pakai. Aku melakukannya pengamatan itu sejak aku mulai bisa mengoperasikan google, sampai akhirnya lukisanku memenangkan lomba yang diadakan sekolah, dikirim lagi ke tingkat yang lebih tinggi, sampai akhirnya di tingkat provinsi, lukisanku tak juara. Tapi tak apa,  meski tak menang, ada pengunjung pameran yang tertarik untuk membeli. Kau tau rasanya lukisan terjual? Girang!

Uang lukisan itu kugunakan untuk biaya masuk kuliah. Ibuku tentu senang, aku tak membebankan padanya biaya masuk kuliah itu. Pun saat akhirnya aku memilih jurusan keguruan, ibuku langsung sujud syukur dan memelukku erat. Air matanya berderai. Diciuminya wajahku.

“Akhirnya, kamu mau kuliah jadi guru Le, Ibuk bungah!” Kulihat mata ibuku berbinar. Binar itu mengeluarkan bulir-bulir air mata. Bulir yang menular kepadaku. Sebenarnya aku tak ingin menangis. Lelaki tak boleh cengeng bukan? Tapi ternyata energi memang menular, air mata pun menular. Entah apa yang kutangisi. Air mataku keluar begitu saja bersama dengan kecup haru dan peluk ibu yang semakin erat.

Kejadian itu empat tahun lalu. Kini aku benar-benar menjadi calon guru seperti harapan ibu. Tentu saja untuk bisa menyempurnakan cita-cita ibu, aku harus menghadapi suatu masa yang dinamakan skripsi. Masa paling melelahkan, memuakkan dan membosankan!

“Doakan semoga skripsiku cepat selesai”

Itulah jawaban yang aku berikan akhir-akhir ini. Kujawab pertanyaan itu sekenanya, padahal dalam hati aku tak tahu pasti kapan skripsi itu bisa selesai. Sudah tiga bulan sejak aku menyusun proposal skripsi dan diujikan. Aku tak pernah lagi membuka file itu. Aku belum pernah sekalipun menemui dosen pembimbing skripsiku. Aku hanya melihat namanya saja di papan pengumuman.

Seandainya aku tidak  kuliah di keguruan ini pasti sekarang aku sudah menjadi pelukis. Meski tak seterkenal Affandi, paling tidak aku bisa melukis setiap hari. Tentang apa saja, sesuka hati. Tentu aku lebih bahagia. Jujur saja selama ini aku tertekan dengan kuliahku. Hidupku seperti terombang-ambing antara memenuhi kewajiban seorang anak untuk berbakti atau membahagiakan diri sendiri.

Dalam hati aku berjanji, kelak kalau aku jadi ayah, aku tak akan membebankan kemauanku pada anakku. Aku akan membiarkan dirinya menjadi apapun yang dia suka. Apapun! Aku sekarang memang hidup dalam jangkar ibu. Semua yang terjadi di diriku adalah keinginan ibuku. Itu bukan karena aku tak bisa menolak atau pasrah. Aku ingin melihat ibuku bahagia. Karena aku adalah keluarga satu-satunya miliknya.

Kuberitahu kau satu rahasia. Aku ini dulu pernah tersangkut di atas pohon kelapa selama tiga hari setelah tsunami. Rumahku koyak, desaku hancur. Puing-puing bangunan berserakan, bau busuk mayat menusuk. Aku dirawat oleh seorang relawan, ternyata dia adalah guru di sebuah kota di Pulau Jawa. Sampai akhirnya aku bertemu dengan ibuku melalui acara TV, aku melihat ibuku di belakang wartawan yang mengabarkan berita kecelakaan. Berkat usaha ibu guru yang mengasuhku dan kru tivi itu aku dipertemukan dengan ibuku secara live. Sejak saat itu aku tinggal dengan ibuku. Sejak saat itu pula ibuku ingin aku jadi guru.

Aku putranya. Akulah harapan terakhirnya. Aku seperti seekor burung dalam jangkar emas. Meski menjadi guru bukan cita-citaku, jangkar ibu tetaplah jangkar emas. Jangkar yang mahal harganya dan harus dijaga. Aku ingin berbakti padanya. Bukankah surga ada dibawah telapak kakinya? Jangkar emas ibu  membawaku sampai pada hari ini. Hari dimana aku selalu dihantui pertanyaan, Mas kapan lulus?

 

Tentang  penulis :

RIZZA M

Rizza Nasir

Tinggal di Jalan Bimokurdo 54 Sapen Gondokusuman Sleman Yogyakarta

 

 

(Visited 757 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

4 comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *