Tim Teknik Sipil S-1, ITN Malang merakit Jembatan “Swarnadwipa Mandala” pada Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XX 2025. (Foto: Istimewa)
itnmalangnews.id – Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) kembali menunjukkan eksistensinya di kancah nasional dengan lolosnya dua tim dalam Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XX, dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia (KBGI) XVI Tahun 2025. Kedua kompetisi bergengsi ini diselenggarakan di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Acara penutupan (closing ceremony) dan pemberian penghargaan (awarding) digelar pada Minggu (16/11/2025) di UMY.
Baca juga: Tim Mahasiswa ITN Malang Ukir Prestasi di NTU International Bridge Design Competition 2025
Tim KJI Teknik Sipil S-1, ITN Malang sempat mencuri perhatian dengan berhasil masuk dalam 10 tim terbaik tingkat nasional pada kategori Jembatan Tipe Pelengkung. Mereka adalah Tim Jayanasa yang terdiri dari Muhamad Nur Arifin (angkatan 2022), dan Aldo Eka Pratama Putra (angkatan 2024), serta didukung oleh 12 mahasiswa sebagai tim support. Dibimbing oleh dosen Ir. Hadi Surya Wibawanto Sunarwadi, ST., MT., IPP., mereka merancang jembatan pelengkung terikat (tipe tied-arch) bernama Jembatan “Swarnadwipa Mandala”.
Jembatan “Swarnadwipa Mandala” berbahan baja hollow dengan panjang 3 meter dan lebar 0,5 meter. Didesain sebagai simbol harmonisasi antara warisan budaya Nusantara, kemajuan teknologi rekayasa, dan visi masa depan Indonesia Emas 2045.
Material jembatan menggunakan baja canai panas BJ-37 dengan berat total hanya 41 kg. Kekuatan pengujian jembatan dirancang mampu menahan beban uji 250 kg dengan lendutan desain hanya 2,47405 mm. Inovasi utama terletak pada sambungan buhul pelat U yang memperkuat titik sambung, meratakan distribusi gaya, dan mempercepat proses perakitan secara presisi dan efisien.
“Penerapan efisiensi material pada jembatan berguna menekan bahan yang terbuang. Strategi ini untuk mengurangi emisi karbon,” ujar Muhamad Nur Arifin yang akrab disapa Arifin saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang beberapa waktu lalu.
Selain itu, desain juga mencakup penerapan panel surya dan turbin vertikal sebagai sumber daya yang ramah lingkungan.
Baca juga: VCC ITN Malang Raih Dua Medali Emas di KICC: Bukti Konsistensi Prestasi Internasional
Dikatakan Arifin, keikutsertaan ITN Malang merupakan kali ketiga mencapai babak final KJI. Namun sayangnya tim belum berhasil membawa pulang kemenangan, hal ini membuat sedikit kekecewaan padahal evaluasi selalu dilakukan usai kompetisi.
“Kami sudah berusaha maksimal, struktur sudah diperkuat, bahkan saat dicoba di kampus aman. Namun, saat pengujian di kompetisi hasilnya tidak sesuai dengan desain kami, sudah melebihi lendutan izin,” ungkap Arifin, yang tahun sebelumnya juga terlibat sebagai tim support.
Meskipun demikian, juri sempat memuji dari sisi estetika dan desain jembatan. Arifin, yang bertanggung jawab pada analisis dan perhitungan struktur berharap ke depan ITN dapat lolos lagi dan menambah nominasi lainnya.
Untuk KJI tahun ini Tim Jayanasa mempersiapkan diri selama kurang lebih dua bulan. Inovasi sambungan menggunakan plat hollow berbentuk U menjadi keunggulan saat perakitan.
Pengalaman berbeda dirasakan oleh Aldo Eka Pratama Putra. Kompetisi KJI ini adalah kali pertama baginya, dan ia mengaku antusias.
“Kaget, senang, dan tidak menyangka bisa lolos final. Disana kami dapat kenalan baru, bisa melihat inovasi dari kampus lain, dan banyak belajar dari para finalis,” tutur Aldo. Ia memiliki tugas di bagian gambar kerja hingga 3D. Mulai semester awal Aldo ingin memperbanyak portofolio, bahkan ia pernah menjadi finalis kompetisi rancang bangun jembatan di UNY pada Mei 2025 lalu.
Keikutsertaan Tim Jayanasa ITN Malang pada KJI XX bukan hanya menjadi bukti kerja keras dan dedikasi dalam merancang jembatan inovatif, tetapi juga menjadi langkah penting dalam membangun pengalaman, memperkuat kompetensi, serta menegaskan komitmen ITN Malang untuk terus berprestasi dan berkontribusi di tingkat nasional. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)


