Amirul Hamdan mahasiswa tingkat akhir Arsitektur ITN Malang (tengah) saat menjadi narasumber trial class. (Tangkapan layar Zoom Meeting)
itnmalangnews.id – Program Studi Arsitektur S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) menggelar trial class bertajuk “Thinking, Modeling, and 3D Printing” secara daring, Kamis, (03/07/2025). Acara ini diikuti peserta dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Tarakan, Jember, Trenggalek, Samarinda, Malang, dan sekitarnya.
Para peserta diajak untuk memahami proses kreatif dalam arsitektur, mulai dari membuat konsep, merancang model, hingga mengenal lebih dekat contoh hasil pencetakan menggunakan 3D printer. Sesi ini menghadirkan dua narasumber, Komang Ayu Laksmi H.S, ST., M.Ars, dosen Arsitektur, dan Amirul Hamdan, mahasiswa tingkat akhir Arsitektur ITN Malang.
Baca juga: Rektor Terpukau Karya Arsitektur Mahasiswa ITN Malang: “Luar Biasa!”
Ir. Gaguk Sukowiyono, MT., Kaprodi Arsitektur S-1 menyampaikan, trial class bertujuan untuk menambah wacana dan wawasan peserta tentang luasnya dunia arsitektur. Harapannya dapat menjadi jembatan bagi para peserta untuk menjadi calon arsitek profesional.
“Mungkin selama ini dalam bayangan arsitektur itu sulit, padahal setelah masuk, arsitektur itu asik,” ujar Gaguk.
Gaguk menyatakan, Arsitektur ITN Malang sudah teruji dengan banyak alumni yang bergelut di dunia profesional dan bekerja di posisi strategis di dalam dan luar negeri. Ia optimis materi yang diberikan akan membangkitkan semangat para calon arsitek.
Materi trial class sesi pertama dibawakan oleh Komang Ayu Laksmi H.S, ST., M.Ars, yang mengupas tuntas tentang “Design Thinking”. Ia menjelaskan, konsep adalah ide besar yang lahir dari pemikiran, dan creative thinking tidak hanya terbatas pada seni.
“Ketika kita berbicara tentang kreativitas, Anda mungkin menganggap saya berbicara tentang seni, tetapi sebenarnya lebih dari itu,” ungkap Komang. Ia menjelaskan, berpikir kreatif juga berarti merancang cara-cara baru untuk melaksanakan tugas, memecahkan masalah, dan menghadapi tantangan dalam berbagai desain produk, baik dalam desain mesin, kursi, hingga rumah, dll.
Menurutnya, kreativitas adalah sebuah proses untuk menemukan kemungkinan yang terbaik, maka perlu melakukan dan mencoba semuanya. Komang juga menegaskan, arsitektur tidak menuntut gambar yang bagus, melainkan ide inovatif.
“Pintar menggambar tapi tidak punya ide, sama aja. Gambar bisa dipelajari tapi ide tidak bisa,” tegasnya, mendorong peserta untuk tidak takut overthinking dan gagal dalam proses kreatif.
Komang menjelaskan, tahapan design thinking akan terus dilakukan oleh mahasiswa arsitektur, mencakup pengumpulan informasi, analisis masalah, pembuatan ide, sintesis melalui pemodelan, dan evaluasi kritis. Ia juga menekankan pentingnya empati terhadap klien dan tidak mengkritik ide sendiri di awal proses. Ia menjelaskan pentingnya alat desain visual untuk membantu pemahaman masalah dan solusi.
Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Amirul Hamdan yang membahas “3D Modeling and Printing”. Ia menjelaskan bagaimana teknologi telah berkembang dan mempermudah dalam arsitektur untuk merancang dan memvisualisasikan objek. 3D modeling adalah proses menciptakan representasi tiga dimensi objek menggunakan perangkat lunak komputer, mencakup geometri, tekstur, pencahayaan, dan render visual.
“Pencahayaan termasuk dalam kenyamanan dalam suatu ruangan atau bangunan. Render visual adalah proses menjadikan gambaran akhir pada proses desain,” jelas Amirul.
Ia memperkenalkan berbagai tools design seperti SketchUp dan ArchiCAD untuk 3D modeling, serta aplikasi render visual ringan seperti Enscape. Animasi juga dijelaskan sebagai alat penting untuk presentasi suasana ruang. Setelah proses detailing dan penambahan ornamen, hasil modeling dapat langsung diaplikasikan ke 3D printing.
Amirul menjelaskan, 3D printing, atau manufaktur aditif, adalah teknologi produksi objek tiga dimensi melalui proses layer-by-layer printing. Teknologi ini memungkinkan pencetakan model digital menjadi objek fisik yang sama dengan desain aslinya, mulai dari objek mudah hingga geometri rumit. Popularitas 3D printing yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan perannya yang semakin krusial dalam berbagai bidang, termasuk arsitektur. (Mita Erminasari/Humas ITN Malang)

