Benang Merah

Penulis : Adi Zamzam

Apakah kalian sudah bisa melihatnya? Benang merah itu terhubung dari satu orang ke orang lainnya. Jalin-menjalin. Panjang sekali. Seolah tiada pangkal dan ujung. Kait-mengait sehingga menjadi rumit. Kalian tak bisa menyalahkan atau membenarkan satu orang saja dalam memandang sebuah persoalan.

 

***

 

Semula, aku sering menyalahkan Bapak yang temperamental. Betapa mudahnya kata-kata semacam ‘goblok’, ‘pakai otakmu’, ‘jangan mikir pakai dengkul’, keluar dari sesela bibir. Juga tangannya yang mudah sekali terangkat dan lalu mendarat keras di kepala atau pipi. Semua itu pudar begitu aku tahu tentang cerita masa kecilnya yang sengsara.

“Kakekmu itu orangnya keras. Disiplin sekali. Dan terkesan enggak punya belas kasihan terhadap anak-anaknya. Terlambat bangun pagi saja akan disiram dengan air. Bermain adalah waktu yang mahal bagi kami. Kapanpun dia punya pekerjaan, kami harus selalu ada untuk turut menungguinya,” tutur Lik Jamil, membuka album masa mudanya. “Karena bapakmu sulung, jadi memang dia yang kerap kena pukul.”

Samar, benang merah yang menghubungkan Bapak dengan Kakek mulai terlihat. Sepertinya itu semacam balas dendam terhadap masa lalu. Lelaki yang seharusnya menjadi pemimpin di rumah kami itu jadi terlihat seperti bocah berjanggut dan berkumis. Seorang anak yang terperangkap dalam tubuh orang tua.

Setelah usaha kerajinan barlen yang ditekuninya hampir duapuluh tahun gulung tikar kalah saing dengan kerajinan monel yang mulai menjadi tren, aku melihat lelaki itu seolah tak ingin menjadi orang dewasa lagi. Kongko-kongko dan memancing adalah kesukaannya yang tak boleh kami cela.

“Mungkin ini karma atas perbuatan bapakmu,” ujar Lik Ridho (adik Emak) yang kerap menampung cerita-cerita sedihku. “Karma selalu terlihat buruk di mata manusia, tapi sebenarnya tidak seperti itu. Hanya semacam cara Dia membetulkan sesuatu, meski kadang kita menolaknya.”

Dan aku memang melihat itu. Acap Bapak melihat dan mendengar amuk dan racau si bungsu, kesedihan lantas merubah rautnya, namun kemudian diusirnya dengan umpatan-umpatan kasar yang ia tujukan kepada nasib.

Aku sering berpikir bahwa benang merah itu panjang menjulur dari Kakek, terhubung ke Bapak, dan lalu adikku. Andai cara Kakek mendidik anak dulu tak seperti itu, mungkin sifat Bapak tak seperti itu.

Tapi kadang aku juga menyalahkan Emak. Sebagai sesama anaknya, betapa sering aku harus melawan rasa cemburu atas perlakuannya terhadap si bungsu.

“Masa kecilnya itu lebih susah dibanding kamu,” bela Emak acap aku memergoki tindakannya yang terlalu mengistimewakan si bungsu. Tak cuma dalam hal-hal sepele macam makanan dan sandang, bahkan dalam soal perhatian pun.

Kini si bungsu seolah menjadi karma bagi semua. Setelah dua kali percobaan bunuh diri, nasibnya kemudian berakhir di rumah sakit jiwa. Empat tahun silam ia pernah coba bakar diri di dalam kamar. Setelah kami desak dengan susah payah, penyebabnya tak lain hanya karena rasa cintanya terhadap seorang gadis yang tertolak. Malam Jum’at yang begitu gempar saat itu. Itu pertama kalinya (dalam seumur hidupku) berteriak panik minta tolong. Pintu kamar akhirnya berhasil kami bobol. Kami temukan dia dalam keadaan dikepung api. Insiden itu membuat kedua kakinya melepuh parah.

Setelah beberapa bulan masa penyembuhan luka bakar itu, dia berulah lagi. Mulanya kukira, yang masih bisa membuatnya ‘berlagak’ tak waras adalah rasa malu tak terkira setelah gagal mati dengan api. Tanpa kami duga, pada suatu siang yang basah gerimis, dengan gilanya dia berteriak-teriak kalap.

Emak yang berusaha menenangkan malah dibanting. Aku dan dia sempat adu jotos, sebelum akhirnya dia menemukan sebuah tabung televisi  di samping rumah. Itu sampah sewaktu Bapak masih menjadi seorang tukang reparasi barang-barang elektronik. Aku sudah berpikir bahwa dia akan melemparkan tabung itu ke arahku. Ternyata kemudian dia menghantamkan tabung itu ke kepalanya sendiri.

Itu adalah masa lalu yang yang tak pernah ingin kukenang selamanya. Juga ketika akhirnya kami berhasil menyembuhkannya dan lalu ribut ingin ‘membuang’nya ke mana. Aku pernah mengusulkan agar dipesantrenkan saja ke sebuah pondok pesantren yang juga menangani orang-orang ‘begitu’ di Jawa Timur. Yang kudengar,ponpes itu besar dan terkenal profesional dalam menangani pasien-pasiennya.

Namun Bapak menolak. Alasannya, dia tidak akan betah tersiksa rindu. Beliau pun kemudian lebih memilih sebuah pesantren kecil yang hanya berjarak beberapa desa dari desa kami. Bukan hanya karena fasilitas pesantren yang aku ragukan. Yang kudengar, mereka hanya menggunakan metode kocor[1] tengah malam dan serangkaian zikir wajib untuk meredakan nafsu serta mengembalikan ingatan yang kabur. Acap kali kami menjenguk, tubuhnya terlihat semakin tak terurus.

Dan Bapak tetap bergeming meski telah melihat semua itu. Benang merah yang menghubungkan antara dia dengan si bungsu makin terlihat jelas. Aku menduga itu penyesalan atas masa lalu. Penyesalan yang terlambat. Beliau tak pernah memerhatikan pendidikan si bungsu. Emaklah yang dulu kerap pontang-panting menghidupi kami meski kadang sampai mengemis ke saudara-saudaranya.

Aku pernah berpikir, mungkin semua ini akan selesai jika tak ada Bapak. Semua akan berakhir saat Bapak pergi untuk selama-lamanya. Takkan ada lagi orang yang menangisi masa lalu. Takkan ada lagi yang menghalangi keberangkatan si bungsu ke RSJ dengan berbagai macam alasan demi menutupi rasa malu. Takkan ada lagi sumber kemuakan yang membuat kami sering merutuki takdir.

Tapi ternyata tak bisa. Emak bilang kami masih sangat membutuhkan lelaki itu. Betapapun tak bergunanya ia saat ini. Betapapun ia hanya berhak menyandang status sebagai tempat kami bermuasal.

Aku mulai melihat bahwa benang merah itu juga terhubung antara Emak dengan Bapak. Tak bisa diputus meski dulu pernah terputus. Dulu, lelaki itu pernah hampir membuat sarang lain bersama perempuan lain. Perempuan yang takkan pernah kulupa rautnya hingga saat ini. Meski semua kegilaan itu sudah berakhir. Benang merah itu kembali tersambung ketika lelaki itu memutuskan kembali ke rumah ini.

Benang merah itu membuat tak ada yang bisa disalahkan secara mutlak. Termasuk juga aku. Kini aku tengah merenung apa saja kesalahanku. Bisa jadi aku juga punya andil atas semua masalah ini. Aku yakin benang merah itu juga terhubung kepadaku.***

 

Kalinyamatan, Jepara, Jateng  2014.

 

(Visited 247 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *